|
Wacana atau Rencana ...?
BUDAYA MARITIM NUSANTARA
Oleh : Hadiwaratama www.ganeshana.org Bandung, 22 Desember 2011.
Pengantar
Tulisan ini sebagai lanjutan dari catatan kunjungan saya kembali ke Ambon tanggal 2 – 3 Desember 2011 yang lalu.
Utamanya adalah ingin menelusuri kembali gagasan Bung Karno yang tak pernah terselesaikan,bahkan lenyap terhapus dalam pertikaian antar anak bangsa beberapa tahun yang lalu,yang secara spontan saya tuliskan kegoncangan saya dalam potongan-potongan kalimat berikut :
|
Sungguh pilu hati ini, Mendapati FT-Unpatti, Kosong senyap sunya hilang, Dari s’mua yang terpasang,Oleh ahli-ahli Rusia, Permesinan Bengkel, Peralatan Laboratorium, Dan apapun yang t’lah kami upayakan, Slama lebih dari 8 tahun, Untuk bermakna dan tertunda, Dari lekangnya waktu dan masa, Lembabnya udara bergaram, Asal laut biru jernih diseberangnya, Bersih dari baluran hitamnya stemfet, Yang kering garing mekingking, Seperempat abad yang lewat, Seluruhnya lenyap dari tempatnya, Hanya mur-baut yang tersisa, Tertanam kuat dibekas fondasinya, Sungguh gila -- gila dan gila, Tak ada lagi yang tersisa, Untuk generasi muda anak bangsa ! Tegakah kita membiarkannya…??? Hw
|
Gagasan besar Bung Karno adanya Pendidikan Tinggi Oceanography di Ambon pun lenyap sudah, tak terungkap apa sebenarnya yang dimaksud kedepannya untuk Indonesia. Namun bisa diduga bahwa itu adalah bagian dari pengejawantahan Wawasan Negara Maritim Nusantara ,ketika Bung Karno memerintahkan membangun 19 Universitas di seluruh Propinsi pada tahun 1959, lebih setengah abad yang silam.Ada 2 Universitas yang mengusung unggulan khusus, yaitu Unmul di Kaltim dengan Kehutanan Tropis dan Unpatti di Maluku dengan Oceanography-nya; sedang yang lain mungkin lebih banyak meng-copy yang ada di Jawa, khususnya GAMA, UI,UNAIR,ITB dan IPB dengan dosen-dosen terbangnya. Universitas Cenderawasih menyusul,sesudah kembali ke pangkuan NKRI dikemudian hari.
Copying ini terbukti,dalam kunjungan saya ke Universitas Syahkuala Aceh pada tahun 1974,saya dibawa berkunjung ke Fakultas Teknik Sipil oleh PR-I , Ir.Soedarsono, saat itu kalau tidak keliru rektornya Prof Abdul Madjid,yang juga ketua Bappenas (?), ternyata staf pengajarnya dari Gajah Mada semua,termasuk PR-I. Ketika keliling ke laboratorium dan gudang,saya lihat banyak peralatan bantuan Pertamina masih banyak tersimpan dipeti, mereka kebingungan membongkar dan memasangnya karena tak ada teknisi. Maklum saat itu Politeknik belum lahir,STM belum kita bangun ! Kalau saja saya saat itu ditugasi oleh Dikti untuk membantu FT-Unsyiah,pasti akan saya bawa pasukan dari Bandung untuk memasang dan menjalan kannya,seperti juga Pak Kermite membawa pasukannya dari Ambon ketika ditugasi jadi Direktur Politeknik Dili. Pernah disuatu rapat Direktur Politeknik Indonesia, hadir seorang Direktur tanpa punya Sekolah,ya dari Politeknik Dili itu---terpaksa tinggal glanggang colong playu (meloloskan diri) karena keburu merdeka. Tetapi saya selalu kagum pada pengabdi-pengabdi pendidikan tinggi Indonesia tsb,jauh-jauh pergi dari ramainya Malioboro dan indahnya teluk Ambon untuk mengabdi ditempat yang amat jauh dan masih in the middle of nowhere pula saat itu,persis Fakultas Teknik Unpatti di tahun ’74 an,ditengah luasnya padang ilalang.
Kawasan Maritim Nusantara.
Entah tepatnya sejak tahun berapa kita mulai mengenal Wawasan Nusantara,kemudian Kawasan Maritim Nusantara,bahkan Prof M T Zen dari ITB menyebutnya Benua Maritim Nusantara . Betapa tidak,memang kita selalu sebut tanah-air untuk kawasan NKRI dimana kita bernegara dan berbangsa ini,artinya tanah yang terhubung oleh air menjadi satu kesatuan wilayah Negara.
Kalau kita mengkaji hasil penelitian Alfred Russel Wallace antara tahun 1854-1861yang ditulis dalam bukunya “ Kepulauan Nusantara “, sebuah Kisah Perjalanan,Kajian Manusia dan Alam , maka akan terbukti bahwa laladan sejak Klimantan sepanjang Selat Makasar sampai Selat Lombok kearah Barat itu sebelumnya menyatu berupa daratan dengan Asia Tenggara dan disebut Dataran Sunda (Tatar Sunda). Sunda sendiri dalam bahasa Jawa Kuna,artinya Dataran yang puncaknya miring. Jadi Tatar Sunda itu mestinya bukan sekedar Jawa Barat,yang mungkin lebih tepat disebut Tatar Parahyangan,seperti juga Bali sebagai Pulau Dewata. Kiranya puncak-puncak miring yang sekarang jadi pulau-pulau Sumatra,Jawa, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil di laut Jawa dan Selat Karimata, Riau kepulauan dll itu dulunya menyatu sebagai daratan, Dataran Sunda/Sunda Land namanya.
Anehnya mengapa bukan Selat Karimata yang disebut Selat Sunda,malah cuma selat sempit yang rencananya mau dibikinkan jembatan penghubung antara Jawa dan Sumatra diatasnya?
Es yang mencair dari sejak zaman 14.000 – 7.600 tahun Sebelum Masehi itulah yang menyisakan pulau-pulau yang memang sejak dulu lebih tinggi sebagai puncak-puncak miring. Jadi laut-laut bekas dataran Sunda,yang sekarang dikenal sebagai Sunda Shelf itu tentunya hanya berupa laut dangkal saja, sekitar 100 m lebih rendah dari garis pantai sekarang. Ini justru dibuktikan oleh penelitian fauna-flora A R Wallace,yang menyebutkan kesamaan satwa-satwa endemic di daratan-daratan bekas dataran Sunda, dimana ciri satwa endemic itu tidak akan pindah kewilayah lain sekalipun hanya dibatasi oleh selat yang sempit saja. Kesamaan satwa-satwa di pulau-pulau dan wilayah-wilayah di Asia Tenggara,Sumatra,Jawa, Bali dll disebelah barat garis imaginair Wallace itu membuktikan bahwa pulau-pulau dan wilayah-wilayah tsb pernah bersatu sebagai suatu daratan. Karena itu ada timah di Singkep,Bangka,Bilitung, Malaysia dan Thailand,dll. Bahkan sekarang menambangnya sudah sampai didalamnya lautan,tidak hanya didarat. Logikanya wilayah Barat Indonesia yang lautnya dangkal ini punya kesamaan sumber-sumber hayati maupun mineral. Konon penanggalan Sundapun yang paling tua di dunia 17.200 tahun umurnya,lebih tua dari kalender Indian di Amerika Selatan, kalender Mesir ataupun China.
Mestinya garis penangkapan ikan sejauh 15 mil dari pantai pun akan berlainan jenis dan ragamnya dari biota pantai laut-dalam. Justru yang paling kaya biota laut itu didaerah 15 mil dari garis pantai itu,menurut penjelasan Kepala Sekolah Perikanan Samudera di Tokyo Bay yang pernah saya kunjungi (Baca tulisan Dari Kobe ke Tokyo Bay). Karena itu sering terjadi sengketa nelayan.Tetapi di Indonesia ini justru nelayan-nelayan didesa pantai lah yang miskin hidupnya,bukan lagi penduduk di Gunung Kidul Jogyakarta.
Kawasan Timur Garis Wallace.
Disebelah Timur garis Wallace itu wilayah laut-dalam,dibatasi disebelah Timurnya oleh garis Weber dan garis Lydekker ,dimana akan ketemu lagi laut dangkal bekas bagian dari benua Sahul yang menyatukan Papua dan Australia. Jadi memang Nusantara terbagi dalam kawasan Maritim dengan laut dangkal dan kawasan Maritim dengan laut - dalam. Mestinya ada perbedaan karakter dari keduanya,baik lautannya maupun kandungan biota dan letak kedalaman mineral serta sumber-sumber energi nya,kalau ada. Bukankah ini justru yang akan jadi PR para sarjana-sujana-nimpuna di wilayah-wilayah tsb yang seyogyanya lebih tegas lagi dalam mendefinisikan wawasan,prospek dan parameter-parameter sasaran yang hendak dicapai dalam membangun sebagai wilayah maritim dengan disekitarnya ?
Pendidikan Tinggi Oceanography yang direncanakan Bung Karno itu sejatinya bagaimana dasar-dasar penalarannya, karena jelas itu di kawasan laut dalam. Pasti ada dasar pertimbangan yang kuat untuk membuat keputusan tsb. Apakah ada pertimbangan politik saat itu,karena bujukan Uni Soviet untuk membangun Naval Base di Teluk Ambon yang strategis itu ? Bung Karno cukup cerdik untuk itu, Irian Barat pun belum terbebaskan saat itu! Dari peralatan yang sudah sampai di Ambon,sepertinya program utamanya adalah untuk Naval Architecture/ Ship Building dan Perikanan/Kelauatan. Kalau sampai US sanggup memberi pinjaman sampai US$3.500.000,- pasti proyek ini dinilai sebagai technologically- economi cally-apalagi militarily if not politically--viable ! Ini yang harus kita kaji ulang dan teruskan pembangunannya sehingga bisa terwujud multi facetted values bagi Indonesia.
Kalau kita tengok kembali keberadaan pusat Kerajaan Maritim Nusantara itu,ternyata ada di kawasan laut dangkal, Sriwijaya di Sumatra, Palembang (?) dan Majapahit di Jawa, di hulu sungai Brantas. Dalam 600 tahun kejayaan Nusantara,ternyata Sriwijaya di kalahkan oleh raja Cola dari India,pasti ini perang laut. Demak dikalahkan oleh armada Portugis dalam perang laut di Malaka pada tahun 1511 M,kemudian di Ambon,dan penghabisannya di Semarang.
Kita selalu mengira, R Wijaya itu telah mengalahkan armada ekspedisi Ku Blai Khan dalam menghukum Singasari karena telah menghina kerajaan Yunnan, ternyata disamping kebingu ngan dijebak oleh R Wijaya,sesudah menundukkan Jayakatwang, juga lebih banyak ditentukan oleh Musim Barat yang segera tiba,dan kuatir menunggu 6 bulan lagi untuk bisa kembali ke China,padahal di daerah yang asing dan tak bersahabat (hostile). Sekarang China sudah mampu membangun armada lautnya kembali,lantas dalam wawasan maritim itu bagaimana persiapan kita ?
Sebagai gambaran, ketika armada Ku Blai Khan menyerbu Singasari tahun 1293,saat itu Singasaripun sudah punya armada yang di Sumatra,bahkan sampai di Sumatra Utara(Joko Dolok). Armada Yunnan terdiri dari 1000 perahu besar-kecil,yang kecil untuk masuk ke Sungai Brantas, dengan pasukan sejumlah 20.000-30.000,melawan 100.000 prajurit Jayakatwang. Kecerdikan R Wijaya membuat Jayakatwang kalah dan pasukan Yunnan melarikan diri,ketakutan tidak bisa pulang kampung pada waktunya.
Memang sejak itu armada Majapahit mampu mengusai seluruh Nusantara sampai sebagian daratan Asia Tenggara,bagian Selatan Filipina dan Papua sebelah Barat. Armada Yunnan berikutnya yaitu Ekspedisi Cheng Ho (Ma Ho), saya kira itu juga bentuk show of force Yunnan yang sudah jadi wilayah China. Untuk apa pada tahun 1405 M Yunnan mengirim ekspedisi nya ke Jawa,lewat Vietnam dan Malaca kalau tidak untuk memperingatkan Majapahit ? Saat itu belum ada kerajaan Islam di Jawa yang ditandai dengan dibangunnya Masjid Agung Demak pada tahun 1466 M,sedang runtuhnya Majapahit baru tahun 1478 M. Cheng Ho membawa armada yang cukup besar,62 kapal dengan 27.800 prajurit,termasuk 4 kapal terbesar pada zamannya dan kapal khusus kuda ! Memang siap perang ! Jadi rata-rata kapasitas kapal Cheng Ho saat itu adalah 450 prajurit ! Bandingkan dengan kapasitas armada Demak ketika dikalahkan armada Portugis di Malaka,hanya 135 prajurit/kapal ! Bahkan armada yang sudah dibangun kembali dan dihancurkan Portugis di Semarang pun hanya berkapasitas 400 prajurit, bandingkan dengan kapal Portugis yang 500 kapasitasnya. Armada Yunnan/China memang paling kuat sampai ke pesisir zasirah Arab dan Pantai Timur Afrika. Sampai 7 kali Cheng Ho memimpin expedisi ke Asia Selatan dan zasirah Arab,bahkan harus bertempur beberapa lama dengan bajak laut di Selat Malaka.
Hulu - Hilir.
Kita sering menghadapi diskusi bahkan ajakan untuk mulai melakukan transformasi pemikiran, cara pandang atau budaya dari daratan ke lautan. Kita seolah-olah disarankan untuk menengokkan arah pandang kita dari daratan kearah pandang sebaliknya yaitu lautan. Saya agak kesulitan memahaminya,mungkin akan lebih mudah bila dilihat dari sisi hulu dan hilir. Hulu dimana semua berawal,dan hilir dimana semua bermuara. Kesejahteraan yang didapat dari kegiatan pertambahan nilai berawal di hulu, sejak bahan mentah selanjutnya berproses mengalir menuju hilir menjadi bahan baku,setengah jadi,kemudian terus menghilir menjadi produk jadi yang dirakit menjadi produk akhir untuk siap dipertukarkan dengan tangible added value baik dalam hard maupun soft cash. Itulah hubungan hulu-hilir. Dalam makna tanah-air ,maka memang kita punya dua hulu,satu di daratan dan satunya lagi dilautan,baik yang berada di air maupun dibawahnya. Keduanya bertemu dalam satu hilir yang sama,pertambahan nilai akhir.
Dari hulu manapun hakekat wealth creation adalah menyangkut proses grow,extract and make. Disitulah hakekat pertambahan nilai ,naturally (alamiah) maupun man made. Yang man-made,proses hakekatnya terkontrol sepenuhnya oleh manusia. Mungkin disini kaidah August Comte berlaku, makin tinggi derajat kandungan ilmiah yang dipakai,makin tinggi pula derajat exactness yang dicapai. Ini mudah dipahami,bila kita masuk dalam kaidah nano technology,yang sarat ilmu pengetahuan alam/dasar dan matematika.
Moda transportasinya pun darat-laut dan udara dengan 3 matra kekuatan pertahanan pula,darat-laut dan udara. Dengan moda satelit,tak akan ada lagi sudut Kawasan Maritim Nusantara manapun yang tak terjangkau oleh jalinan komunikasi.
Oceanography.
Kalau merujuk pada berbagai sumber dan program-program studi di beberapa Perguruan Tinggi di berbagai Negara ,boleh disimpulkan bahwa Oceanography adalah cabang ilmu Kebumian yang mempelajari beragam ilmu yang berkaitan dengan hakekat Kelautan,yang sebagian diantaranya meliputi ilmu-ilmu :
marine biology,marine physics yang antara lain meliputi ocean physical attributes seperti gelombang- arus-pasang surut-salinasi-temperatur dll,marine chemistry, marine geology,meteorology, marine engineering, coastal geography dan banyak cabang ilmu –ilmu lain yang berkaitan dengan laut.Menilik peralatan dari Rusia yang sudah sampai di Ambon,bisa diduga program study yang akan diselenggarakan adalah :
- Naval Architecture,yang meliputi design and construction of ships,karena direncanakan adanya towing tank juga,disamping permesinan yang besar-besar dan mesin-mesin bubut yang panjang untuk repair/rebuild poros kapal.
- Marine Engineering, yang meliputi perancangan system yang akan menggerakkan kapal ,seperti system mekanik atau mesin propulsi dan struktur pendukungnya. Mungkin untuk peralatan ini masih belum sempat dibongkar dari petinya dan dipasang.
- Termasuk dalam Marine Engineering ini ialah Offshore Structure, yang meliputi design-construction-repair of structures dan fasilitas-fasilitas lain yang berkaitan dengan lingkungan kelautan,seperti dalam pembangkitan/produksi tenaga listrik dan transmisi nya,oli, gas dan sumber-sumber energi lainnya. Kemungkinan besar dibidang itulah yang ingin dibangun di cabang Marine Engineering di Ambon,yang kelak bisa meliputi Offshore Platform and Rig.
- Mungkin pengembangan selanjutnya bisa meliputi Coastal Structure,yang kemungkinan besar di program studi Civil Engineering ?
- Yang non-engineering,sepertinya Marine Biology atau Perikanan Samudera,itu melihat dari peralatan di gudang-gudang yang pernah saya sebutkan. Mungkin sekali dalam Proyek Oceanography tsb termasuk Ilmu Kelautan.
Pembangunan Perguruan-Perguruan Tinggi Baru.
Langkah nyata dalam rencana persiapan jangka panjang mengangkat matra kemaritiman adalah melanjutkan,memperluas dan memperdalam gagasan Bung Karno seperti di Ambon,namun disesuaikan dengan lingkungan daerah masing-masing,baik yang memangku laut dangkal maupun dalam. Konon, Pem akan membangun lagi 13 PerguruannTinggi Baru,baik sesuai recana pembukaan Koridor-Koridor Ekonomi maupun menggali potensi dari matra laut yang belum tergali atau terpikirkan selama ini. Mudah-mudahan tidak sekedar replikasi dari Pergu ruan Tinggi yang telah ada sekarang,tetapi betul-betul bisa menciptakan fokus unggulan dari lingkungan sekitar daerah masing-masing perguruan tinggi yang akan dibangun.
Semoga tidak lupa untuk membangun kembali Program Oceanography di Ambon seperti tujuan awalnya yang kini hampir-hampir telah lenyap bekas-bekasnya,dan hanya bisa menjadi program studi seperti di Perguruan Tinggi lain umumnya. Kita sungguh memerlukan kesungguhan ! Sungguh….?
Bandung,22 Desmber 2011
Hadiwaratama
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
|